Amirrotun, Solikhah (2025) ANALISIS PENGALIHAN ASUH ANAK SEMENTARA DALAM KELUARGA DUAL-EARNER PERSPEKTIF MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH (Studi Kasus di Karanganjing Kabupaten Banyumas). Skripsi thesis, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
|
Text
AMIRROTUN SOLIKHAH_ANALISIS PENGALIHAN ASUH ANAK SEMENTARA DALAM KELUARGA DUAL-EARNER PERSPEKTIF MAQĀṢI.pdf Download (5MB) | Preview |
Abstract
Penelitian ini berangkat dari diskursus kontemporer, keluarga dual-earner dimana kedua orang tua bekerja demi peningkatan kesejahteraan keluarga kerap memunculkan dilema pengasuhan, khususnya bagi anak yang belum mumayyiz (Pasal 105 Ayat 1 KHI) yang kemudian didelegasikan kepada pihak ketiga (third-party care). Praktik pengalihan asuh anak sementara, suatu fenomena yang muncul akibat tuntutan tingginya kesibukan kerja. Diskursus ini menjadi krusial karena dalil Al-Qur'an dan Hadis mengenai pengalihan asuh sementara tidak diatur secara rinci. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik pengalihan asuh anak di Karanganjing dan mengevaluasinya melalui perspektif maqāṣid al-syarī‘ah Imam al-Syāṭibī. Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik mengumpulkan data melalui observasi dengan pihak kelurahan, ketua RW, RT dan kader di Karanganjing. Peneliti telah mewawancarai 17 keluarga dual-earner ranah publik (public sphere) direduksi menjadi 10 informan. Kemudian 7 keluarga dual-earner berbasis rumah (home-based) berdasar aksebilitas menjadi 3 informan. Kitab al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarīʿah Juz I karangan Imam al-Syāṭibī sebagai grand theory. Selanjutnya pola pengasuhan Diana Baumrind dan hierarki kebutuhan Abraham Maslow sebagai teori pendukung. Temuan menunjukkan, keputusan pengalihan asuh anak sementara dalam keluarga dual-earner didominasi kebutuhan fisiologi dan keamanan untuk mencapai kondisi financial freedom (ḥifẓ al-māl). Penggunaan kinship care dengan alasan kedekatan keluarga dan ekonomi menjadi pilihan paling alternatif, namun terdapat juga yang lebih memilih jasa baby sitter, daycare bahkan pondok pesantren. Ditemukan keluarga dual-earner (public sphere) mempunyai pengasuhan otoriter dan abai, bahkan mengalami present but absent parenting. Sedangkan keluarga dual-earner (home-based) menjalani pengasuhan permisif sehingga anak mudah cengeng. Menimbulkan tantangan terhadap disparitas ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-‘aql terutama optimalisasi ḥifẓ al-nasl akibat berkurangnya interaksi langsung orang tua dengan anak seperti menjaga kedekatan emosional (emotional intimacy). Akibat keterbatasan waktu berkualitas (quality time) atau obrolan mendalam (deep talk) antara orang tua dan anak. Kata Kunci: Pengalihan asuh anak sementara, keluarga dual-earner, maqāṣid al-syarī‘ah Imam al-Syāṭibī.
Actions (login required)
![]() |
View Item |
