Akhdaan, Purinda (2025) IMPLEMENTASI HAK-HAK ISTRI DALAM KELUARGA MANHAJ SALAFI PERSPEKTIF KEADILAN GENDER MANSOUR FAKIH (Studi Kasus di Desa Kalibening Kecamatan Kalibening Kabupaten Banjarnegara). Skripsi thesis, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri.
|
Text
Fix skripsi Akhdaan Daffa Purinda _2017302129 (1).pdf Download (3MB) | Preview |
Abstract
Pernikahan merupakan institusi sosial yang menimbulkan hak dan kewajiban timbal balik antara suami dan istri sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. Di Desa Kalibening terdapat komunitas manhaj Salafi (50 dari 5.144 jiwa) yang menerapkan pembagian peran gender secara tekstual berdasarkan pemahaman klasik terhadap teks agama. Kajian akademik mengenai praktik keadilan gender dalam komunitas Salafi masih terbatas, sehingga penelitian ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan mengkaji implementasi hak-hak istri dalam keluarga manhaj Salafi melalui perspektif keadilan gender Mansour Fakih. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang berfokus pada komunitas manhaj Salafi di Desa Kalibening, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga narasumber utama: A selaku tokoh masyarakat di kalangan Salafi, SB sebagai ustadz sekaligus tokoh masyarakat, dan S yang juga merupakan ustadz serta penggerak kajian manhaj Salafi. Selain itu, dilakukan observasi partisipatif di lingkungan sosial keagamaan serta dokumentasi untuk mendukung keakuratan data. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dengan validitas yang dijaga melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran publik istri tidak sepenuhnya dilarang, tetapi dibatasi oleh norma syariat. Aktivitas istri berpusat pada ruang religius dan ekonomi rumah tangga, sementara suami diposisikan sebagai qawwam dan pencari nafkah utama. Dalam perspektif Mansour Fakih, kondisi ini mencerminkan subordinasi perempuan yang dilegitimasi secara religius. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Nasaruddin Umar tentang penafsiran tekstual yang melahirkan bias gender, serta Amina Wadud yang menegaskan pentingnya pembacaan Al-Qur‟an yang berkeadilan gender. Temuan ini memperlihatkan adanya dialektika antara nilai tradisional manhaj Salafi dan prinsip keadilan gender, serta mendorong pengembangan wacana keislaman yang lebih kontekstual dan setara.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Kata kunci: hak istri, manhaj salafi, keadilan gender. |
| Subjects: | 2x4. Fiqih > 2x4.3 Munakahat 2x4. Fiqih > 2x4.3 Munakahat > 2x4.36 Hak dan Kewajiban Suami-Istri (Nafaqoh) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Hukum Keluarga Islam |
| Depositing User: | Akhdaan Daffa Purinda |
| Date Deposited: | 27 Oct 2025 03:29 |
| Last Modified: | 29 Oct 2025 02:50 |
| URI: | http://repository.uinsaizu.ac.id/id/eprint/33761 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
