OTORITAS KEAGAMAAN DALAM PRAKTIK PERJODOHAN DI KALANGAN MASYARAKAT MUSLIM PENGANUT TAREKAT (STUDI KASUS PADA JAMA’AH QODIRIYAH WA NAQSABANDIYAH DI PONDOK PESANTREN ANWARUSH SHOLIHIN PAMUJAN, PURWOKERTO SELATAN)

Ahmad, Fauzan (2025) OTORITAS KEAGAMAAN DALAM PRAKTIK PERJODOHAN DI KALANGAN MASYARAKAT MUSLIM PENGANUT TAREKAT (STUDI KASUS PADA JAMA’AH QODIRIYAH WA NAQSABANDIYAH DI PONDOK PESANTREN ANWARUSH SHOLIHIN PAMUJAN, PURWOKERTO SELATAN). Skripsi thesis, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri.

[img]
Preview
Text
Ahmad Fauzan_OTORITAS KEAGAMAAN DALAM PRAKTIK PERJODOHAN DI KALANGAN MASYARAKAT MUSLIM PENGANUT TAREKAT (Studi Kasus Pada Jama’ah Qodiriyah wa Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Anwarush Sholihin Pamujan,Purwokerto S.pdf

Download (2MB) | Preview

Abstract

Fenomena perjodohan di Indonesia terus berkembang sebagai tradisi dan menyisakan dampak yang memprihatinkan dari berbagai sisi. Dalam konteks ini mursyid juga memiliki peran krusial dalam melangsungkPEan praktik perjodohan, ketidakseimbangan ini kemudian melahirkan apa yang disebut dengan otoritas. Praktik perjodohan melalui otoritas keagamaan pada akhirnya menimbulkan problematika hukum keluarga di kalangan masyarakat Muslim jama’ah Qodiriyah wa Naqsabandiyah di Purwokerto Selatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik perjodohan yang melibatkan otoritas keagamaan serta mengkaji peran otoritas keagamaan dalam dinamika sosial-religius yang melatarbelakanginya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan sosiologis-empiris melalui wawancara langsung dengan subjek. Data primer dikumpulkan melalui observasi partisipan wawancara mendalam dengan jama’ah, dan tokoh agama, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data sekunder diambil dari berbagai sumber seperti buku, artikel jurnal, skripsi, dan referensi lain yang relevan dengan penelitian ini. Serta analisis data dilakukan menggunakan metode secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang dikembangkan oleh Miles. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, Praktik perjodohan muncul karena adanya mandat otoritas keagamaan sebagai penasihat, mediator, dan pemberi restu dalam proses perjodohan, dengan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan agama. Kedua, Peran mursyid didasarkan pada aspek legitimasi otoritas kharismatik berbasis relasi kuasa terinstitusionalisasi yang menekankan pendekatan verstehen sehingga dapat memberikan pemahaman mengenai praktik perjodohan secara holistik, untuk menghindari penilaian subjektif yang sempit. Temuan ini merefleksikan harmonisasi antara otoritas keagamaan, nilai Islam, dalam masyarakat.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Otoritas Keagamaan, Praktik Perjodohan, Qodiriyah Wa Naqsabandiyah
Subjects: 2x4. Fiqih > 2x4.3 Munakahat
2x5 Akhlak dan Tasawuf > 2x5.3 Tarekat
Divisions: Fakultas Syariah > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Ahmad Fauzan
Date Deposited: 24 Jul 2025 01:59
Last Modified: 24 Jul 2025 01:59
URI: http://repository.uinsaizu.ac.id/id/eprint/32706

Actions (login required)

View Item View Item